Indonesiasentris.com | Pengurangan anggaran pendidikan yang dialihkan ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan polemik serius dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Jika ditinjau dari struktur anggaran nasional, sektor pendidikan justru menjadi salah satu yang paling rendah dibandingkan dengan pembiayaan instansi/lembaga atau program lain. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin Indonesia menargetkan pencapaian SDM unggul pada 2045 dengan slogan Indonesia Emas, sementara anggaran pendidikan justru mengalami pengurangan?
Pencapaian target Indonesia Emas 2045 menuntut perencanaan pembangunan yang konsisten, terukur, dan berorientasi jangka panjang. SDM unggul menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global, kemajuan teknologi, serta persaingan ekonomi internasional. Tanpa dukungan anggaran pendidikan yang memadai, upaya meningkatkan kualitas literasi, numerasi, inovasi, dan daya saing generasi muda akan mengalami hambatan serius. Pendidikan bukan sekadar sektor pelengkap, melainkan investasi strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan nasional secara menyeluruh.
Dalam konteks ini, pemerintah memegang peran sentral sebagai pengambil kebijakan dan penentu arah pembangunan SDM. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan anggaran, termasuk program MBG, disinergikan dengan penguatan sistem pendidikan nasional. Keberpihakan terhadap pendidikan harus tercermin dalam alokasi anggaran yang adil dan proporsional, sehingga pemenuhan gizi dan peningkatan kualitas pendidikan dapat berjalan beriringan. Dengan kebijakan yang berimbang dan berorientasi masa depan, target Indonesia Emas 2045 tidak hanya menjadi slogan, tetapi terwujud dalam kualitas SDM Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dampak Jangka Panjang Pendidikan terhadap SDM:
Tujuan utama pembangunan nasional adalah menciptakan generasi emas yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Namun, apabila pendidikan ditempatkan pada posisi yang kurang prioritas, maka kualitas SDM dalam jangka panjang akan terancam. Program MBG memang penting untuk mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi gizi yang baik tanpa diimbangi pendidikan yang berkualitas hanya akan menghasilkan SDM yang sehat secara fisik, namun lemah secara intelektual dan kompetitif.
Dalam jangka panjang, pengabaian terhadap sektor pendidikan akan berdampak langsung pada rendahnya kualitas tenaga kerja nasional. SDM yang tidak dibekali pendidikan yang memadai akan kesulitan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, inovasi industri, dan kebutuhan pasar kerja global. Akibatnya, Indonesia berpotensi mengalami bonus demografi yang tidak optimal, di mana jumlah usia produktif meningkat, tetapi tidak diiringi dengan kualitas kompetensi yang memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Selain itu, dampak jangka panjang dari lemahnya investasi pendidikan juga berimplikasi pada meningkatnya kesenjangan sosial dan ekonomi. Ketimpangan akses dan mutu pendidikan akan memperlebar jurang antara kelompok masyarakat, memperkuat siklus kemiskinan struktural, serta menurunkan daya saing bangsa di tingkat internasional. Oleh karena itu, sinergi antara pemenuhan gizi melalui MBG dan penguatan pendidikan menjadi keharusan strategis, agar pembangunan SDM Indonesia tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga unggul secara intelektual, inovatif, dan kompetitif di masa depan.
Sinergi Pendidikan dan Program MBG untuk Peningkatan SDM:
Fenomena ini menjadi perhatian lintas kalangan, baik akademisi maupun masyarakat umum. Banyak pihak menilai bahwa pemerintah seharusnya lebih mengedepankan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan SDM, bukan menempatkannya sebagai sektor yang dapat dikompromikan. Idealnya, kebijakan MBG dan pendidikan tidak dipertentangkan, melainkan berjalan seiring dan saling menguatkan.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, pendidikan memiliki peran strategis sebagai instrumen utama pembentuk karakter, pola pikir, dan kapasitas inovasi generasi muda. Tanpa pendidikan yang kuat, kebijakan sosial seperti MBG berisiko menjadi solusi jangka pendek yang tidak mampu menjawab persoalan struktural SDM. Oleh karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam kebijakan anggaran negara, bukan sebagai pelengkap dari program-program populis yang bersifat temporer.
Lebih jauh, sinergi antara pendidikan dan MBG membutuhkan perencanaan kebijakan yang terintegrasi dan berbasis data. Pemerintah perlu memastikan bahwa pemenuhan gizi benar-benar mendukung proses belajar yang berkualitas, misalnya melalui peningkatan konsentrasi, kesehatan, dan kehadiran siswa di sekolah. Dengan pendekatan yang holistik, kebijakan pendidikan dan MBG tidak hanya berjalan berdampingan, tetapi saling memperkuat dalam membentuk SDM Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan pembangunan nasional di masa depan.
Prioritas Kebijakan untuk Sinergi Pendidikan dan Gizi dalam Membangun SDM Unggul:
Pendidikan yang berkualitas membutuhkan dukungan anggaran yang memadai, mulai dari peningkatan kualitas guru, sarana prasarana, hingga akses pendidikan yang merata. Tanpa investasi serius di sektor ini, visi Indonesia Emas 2045 berpotensi menjadi slogan normatif tanpa landasan nyata. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemenuhan gizi dan penguatan pendidikan harus menjadi prioritas kebijakan, agar pertumbuhan dan pengembangan SDM Indonesia dapat berlangsung secara berkelanjutan dan optimal.
Pendidikan yang berkualitas membutuhkan dukungan anggaran yang memadai, mulai dari peningkatan kualitas guru, sarana dan prasarana, hingga pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Investasi yang kuat pada sektor pendidikan akan menciptakan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga cerdas, kreatif, dan mampu berinovasi. Tanpa dukungan ini, upaya mencetak SDM unggul berisiko terhambat, sehingga visi Indonesia Emas 2045 hanya menjadi slogan normatif tanpa implementasi nyata.
Oleh karena itu, keseimbangan antara pemenuhan gizi melalui program MBG dan penguatan pendidikan harus menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah. Sinergi yang tepat antara kedua sektor ini akan memastikan bahwa anak-anak Indonesia dapat tumbuh dengan sehat, sekaligus memperoleh pendidikan berkualitas yang mendukung kemampuan berpikir kritis, kompetensi profesional, dan daya saing global. Dengan pendekatan berkelanjutan, pembangunan SDM Indonesia dapat berlangsung optimal dan berdampak nyata bagi kemajuan bangsa di masa depan.
Kesimpulan Sementara:
1. Pengurangan anggaran pendidikan di tengah visi Indonesia Emas 2045 merupakan paradoks kebijakan yang berpotensi melemahkan pembangunan SDM:-
Pendidikan sebagai investasi jangka panjang seharusnya menjadi prioritas utama negara, karena tanpa dukungan anggaran yang memadai, peningkatan kualitas SDM unggul dan berdaya saing global akan sulit diwujudkan.
2. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan dan kesiapan belajar anak, namun tidak dapat menggantikan fungsi strategis pendidikan:-
Pemenuhan gizi dan penguatan pendidikan harus berjalan secara sinergis, sebab gizi yang baik tanpa pendidikan berkualitas hanya menghasilkan SDM yang sehat secara fisik, tetapi lemah secara intelektual dan kompetitif.
3. Keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada komitmen pemerintah dalam merumuskan kebijakan anggaran yang berimbang, berkelanjutan, dan berorientasi masa depan:-
Sinergi kebijakan pendidikan dan MBG yang terintegrasi dan berbasis data menjadi kunci dalam membangun SDM Indonesia yang unggul, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.