Logo Indosia sentris Logo Indosia sentris
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Reading: Walisongo Tanpa Laskar
Share
Search
Font ResizerAa
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Heritage
  • Saintek
Search
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Follow US
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme. Powered by WordPress
Home » Blog » Walisongo Tanpa Laskar
Dialektika

Walisongo Tanpa Laskar

Catatan Cak Ahmadie Thaha (Kolumnis)

By admin
Last updated: 27/07/2025
5 Min Read
Share

Indonesiasentris.com | Pernah dengar kisah Walisongo membubarkan pengajian? Tidak? Ya, tentu saja tidak. Sebab para wali itu bukan geng preman. Mereka bukan laskar dadakan yang nongkrong menunggu aba-aba untuk “sikat pengajian.” Mereka adalah pencerah zaman, bukan pemicu kerusuhan.

Namun zaman memang sudah bergeser. Kini, ada yang menamakan diri pewaris perjuangan Walisongo di Indonesia lengkap dengan embel-embel laskar. Mereka seolah hendak menabalkan diri sebagai penerus garis keras —eh, garis dakwah para wali.

Tapi anehnya, yang mereka tampilkan justru bukan kelembutan dan kebijaksanaan para wali, melainkan seragam, yel-yel, dan kerumunan massa yang siap menerkam siapa saja yang tidak cocok tafsirnya. Jika para wali yang sembilan bangun dari kubur, mereka mungkin menangis.

Perkumpulan laskar itu belum lama berdiri, dan untuk pertama kalinya menggelar musyawarah kerja nasional. Semangatnya: memberantas radikalisme, menyelamatkan NKRI, dan mengusir paham-paham transnasional. Sah-sah saja mereka bikin mukernas.

Tapi setelah itu, alih-alih memproduksi buku dakwah atau menyusun program literasi masjid, mereka malah tampak lebih sibuk membentuk “laskar-laskaran” lengkap dengan jargon nasionalisme rasa milisi. Apakah ini transformasi ormas ke ormas bersenjata niat?

Yang lebih menggelikan: mereka mengklaim sebagai penjaga ajaran Walisongo sambil menolak secara frontal nasab habaib Ba ‘Alawi. Mereka pun mencatat nama-nama habib yang mereka identifikasi punya nasab demikian. Silakan punya pendapat atau bikin catatan.

Tapi kalau ujungnya adalah mengerahkan massa untuk membubarkan pengajian, itu bukan diskusi ilmiah. Itu penyerbuan. Dan para wali, di negeri ini dan di dunia, sejauh sejarah mencatat, tidak pernah menyerbu majelis zikir. Mereka menyalakan lilin, bukan meniupnya.

Tragedi Pemalang menjadi puncak kekacauan itu: sebuah tabligh akbar damai yang menghadirkan Habib Rizieq Shihab, seorang habib yang diidentifikasi keturunan Alawi, tiba-tiba disambut bukan oleh hujan doa, tapi lemparan tangan kosong dan teriakan takbir dari massa laskar.

Dari mana laskar ini muncul, jelas sekali asal-muasalnya. Dari rekaman video yang menampilkan kesiapan “perang” yang mereka lakukan, jelas tindakan mereka tidak mencerminkan ajaran sembilan wali. Bahkan mungkin tak mencerminkan akhlak awam sekalipun.

Pertanyaannya sederhana: Apa yang mendorong sekelompok orang mengklaim dakwah tapi bersikap seperti garda kekerasan? Apakah karena ketakutan ideologis? Atau karena gagal memahami bahwa dakwah tak bisa dipaksakan dengan ancaman?

Negara ini punya hukum. Punya mekanisme peradilan. Jika ada ceramah yang menyimpang, laporkan. Bukan malah membentuk pasukan swadaya berbekal semangat “main hakim sendiri.” Itu bukan dakwah. Itu ngawuriyah fi sabilil emosi.

Mengklaim sebagai pewaris Walisongo bukanlah dengan mencetak stiker, membentuk laskar, lalu menyerang pengajian. Walisongo dengan kesembilan walinya bukan organisasi yang bisa didaftarkan di Kemenkumham. Mereka adalah arsitek ruhani bangsa ini.

Walisongo menanamkan dakwah sejuk, penuh cinta dari pesisir hingga pedalaman, tanpa laskar. Sunan Kalijaga berdakwah lewat budaya. Sunan Bonang lewat gamelan. Sunan Giri mendirikan madrasah. Tak satu pun dari mereka yang mengumpulkan pasukan untuk mengusir ulama lain hanya karena berbeda tafsir atau berbeda jalur sanad.

Maka, tak aneh jika banyak pernyataan keras mengkritik mereka: ini bukan lagi perdebatan tafsir, ini adalah penghinaan terhadap hukum. Tindakan kekerasan terhadap acara keagamaan yang sah dan damai adalah bentuk terorisme sipil —dan negara tidak boleh tutup mata.

Jika hari ini negara diam, maka esok kita tak tahu siapa lagi yang akan dibubarkan. Mungkin majelis yasin di kampung. Mungkin pengajian ibu-ibu. Mungkin sekolah-sekolah. Kita hidup dalam negara hukum, bukan negara ormas siapa cepat dia berkuasa.

Rakyat perlu tahu: sejarah tak pernah memihak penindas. Jejak kekerasan oleh kelompok yang mengklaim suci selalu berakhir di pinggir sejarah. Tidak ada satu pun kekuatan moral yang bertahan jika dibangun di atas kepalan tangan dan makian.

Yang bertahan adalah cinta. Dakwah. Dan ilmu. Seperti yang dilakukan Walisongo —yang sesungguhnya. Jika kumpulan laskar tersebut benar ingin menjaga warisan Walisongo, maka mari kita ajak mereka membuka kembali kitab sejarah.

Seharusnya mereka mau duduk, berdiskusi, berdebat dengan data dan dalil, bukan dengan tinju dan tendang. Sebab yang waras tak akan membubarkan pengajian. Yang benar tak akan takut pada ceramah. Dan pewaris Walisongo seharusnya tak perlu membentuk laskar.

Catatan ini saya buat tidak sedang menyerang siapa pun, tapi sedang menertawakan betapa mudahnya label “Wali” disematkan tanpa warisan ilmu dan akhlak. Jika merasa tersinggung, boleh jadi itu karena masih merasa berhak memukul orang lain atas nama dakwah.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Jakarta, 27/7/2025

TAGGED:laskar hitampengajianwalisongo

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Email Copy Link Print

SUBSCRIBE NOW

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]

HOT NEWS

phri dki jakarta

Rakerda PHRI, Ini Imbauan Menteri Lingkungan Hidup untuk Usaha Hotel dan Restoran

LifestylePariwisata
14/06/2025
basa alim tualeka

Kebenaran yang Menjadi Pegangan, Ilmu yang Terus Berjalan

Basa Alim Tualeka (Obasa)

11/01/2026
tower ASN

Update IKN, Sebanyak 27 Tower untuk ASN sudah Kelar

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan 27 tower untuk ASN di Ibu…

21/01/2025
rusun ikn

Update IKN, Ketua MPR akan Tinjau Pembangunan IKN

Pemerintah terus melakukan pembangunan di IKN. Dalam waktu dekat Ketua MPR RI Ahmad Muzani akan…

21/01/2025

YOU MAY ALSO LIKE

Tambang Emas Tembakau Madura Minus Keadilan Sosial

Madura, pulau tanpa gunung emas, tembaga, atau nikel seperti Papua. Tapi jangan salah, pulau ini punya tambang emas yang lebih…

Dialektika
15/05/2025

UAH Merapat ke Prabowo, Bawa Si Opung dan Si Cepot

Di tengah era digital yang penuh clickbait, pidato Ustadz Adi Hidayat (UAH) selengkapnya berikut ini tidak dibuat untuk menyenangkan algoritma,…

Dialektika
24/04/2025

Studi Strategi Lokasi dan Dampaknya terhadap Kinerja Operasional: Kasus Industri Manufaktur di Indonesia

Anissa Sekar Kinasih (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Dialektika
27/10/2025

Sertifikasi Kepemilikan Laut, Fatwa Saja Tak Cukup!

Mungkin laut tidak bisa menangis, tapi kalau bisa, pasti ia sudah berlinang air mata lebih asin dari biasanya. Bagaimana tidak?

Dialektika
19/02/2025

Logo Ikon Indonesia Sentris

Web Syndication:

  • Info Keamanan
  • Destinasi Indonesia
  • Warta Regional
  • Info UMKM
  • Info Halal
  • Inilah Kita
  • Info Pesantren
  • Info Beasiswa
  • Suara Muslim
  • Info Masjid
  • Info Kuliner
  • Info Sehat
  • Info Tekno
  • Seputar Rumah
  • Kota Surabaya
  • Info Bekasi
  • Jasa Publikasi
  • Info Santai
  • About Us
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Seedbacklink
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
Follow US
@2025 | IndonesiaSentris
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?