Indonesia Sentris | Investasi sering dianggap sebagai aktivitas yang didasarkan pada perhitungan rasional, analisis risiko, dan potensi keuntungan. Namun, dalam praktiknya banyak keputusan investasi justru dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti rasa takut, terlalu percaya diri, atau mengikuti tindakan orang lain. Kondisi inilah yang menjadi fokus kajian behavioral finance atau perilaku keuangan.
Behavioral finance merupakan cabang ilmu yang mempelajari pengaruh psikologi terhadap keputusan keuangan. Teori ini menjelaskan bahwa investor tidak selalu bertindak rasional sebagaimana diasumsikan dalam teori keuangan tradisional. Emosi dan perilaku sering kali memengaruhi keputusan investasi, sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Fenomena seperti kepanikan saat harga saham turun, euforia ketika pasar sedang naik, hingga kecenderungan mengikuti mayoritas merupakan contoh nyata pengaruh psikologis dalam dunia investasi. Oleh karena itu, memahami perilaku keuangan menjadi penting agar investor mampu mengendalikan emosi dan membuat keputusan yang lebih tepat.
Mengapa Psikologi Berpengaruh dalam Investasi?
Saat seseorang berinvestasi, keputusan yang diambil tidak hanya dipengaruhi oleh data dan informasi keuangan. Faktor psikologis seperti keyakinan diri, pengalaman masa lalu, lingkungan sosial, dan kondisi emosional juga ikut menentukan pilihan investasi. Oleh karena itu, behavioral finance tidak hanya mempelajari aspek keuangan, tetapi juga memanfaatkan konsep psikologi dan sosiologi untuk memahami perilaku investor.
Sebagai contoh, ketika sebuah produk di supermarket mengalami diskon 20 persen, banyak orang tertarik untuk membeli karena menganggapnya lebih murah. Namun saat harga saham yang dimiliki turun 20 persen, sebagian besar investor justru panik dan ingin menjual saham tersebut. Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih takut terhadap kerugian dibandingkan mengejar keuntungan, sebuah kondisi yang dikenal sebagai loss aversion.
Empat Perilaku Utama dalam Behavioral Finance
Para ahli mengidentifikasi beberapa perilaku yang sering muncul dalam keputusan investasi.
- Mental Accounting, yaitu kecenderungan seseorang mengelompokkan uang berdasarkan tujuan tertentu sehingga memengaruhi cara mereka mengelola dan menginvestasikannya.
- Herd Behavior, yaitu perilaku mengikuti mayoritas tanpa melakukan analisis sendiri. Banyak investor membeli atau menjual saham hanya karena orang lain melakukan hal yang sama.
- Anchoring, yaitu kecenderungan menjadikan satu informasi sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan, meskipun informasi tersebut belum tentu relevan.
- High Self-Rating, yaitu kondisi ketika seseorang menilai kemampuan dirinya terlalu tinggi dibandingkan kenyataan yang ada.
Keempat perilaku tersebut menunjukkan bahwa psikologi memiliki peran besar dalam menentukan keputusan keuangan. Namun, keputusan yang hanya didasarkan pada emosi tanpa dukungan data dan analisis yang memadai dapat berisiko menimbulkan kerugian.
Bias yang Sering Menjebak Investor
Dalam behavioral finance dikenal berbagai bentuk bias yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan.
Pada bias kognitif, investor sering mengambil keputusan terlalu cepat berdasarkan pengalaman masa lalu, hanya mencari informasi yang mendukung pendapatnya, atau merasa memiliki kendali penuh atas hasil investasi yang dilakukan.
Sementara itu, bias emosional muncul ketika keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan daripada data. Beberapa contohnya adalah:
- Overconfidence Bias, yaitu rasa percaya diri yang berlebihan.
- Loss Aversion Bias, yaitu rasa takut rugi yang terlalu besar.
- Status Quo Bias, yaitu enggan melakukan perubahan meskipun diperlukan.
- Greed Bias, yaitu keinginan memperoleh keuntungan besar tanpa mempertimbangkan risiko.
Bias-bias tersebut dapat menyebabkan investor mengabaikan fakta penting, mengambil keputusan yang tidak objektif, dan akhirnya mengalami kerugian.
Pentingnya Menyeimbangkan Emosi dan Analisis
Para ahli menekankan bahwa behavioral finance bukan berarti mengabaikan logika dan data. Sebaliknya, faktor psikologis seharusnya menjadi pelengkap bagi analisis fundamental dan teknikal dalam investasi. Investor perlu memahami risiko, melakukan diversifikasi aset, serta menjaga keseimbangan portofolio agar keputusan yang diambil lebih terukur.
Pengalaman runtuhnya perusahaan teknologi seperti CISCO saat gelembung dot-com pada awal tahun 2000 menjadi pelajaran penting. Banyak investor terlalu percaya diri terhadap pertumbuhan sektor teknologi tanpa melakukan analisis yang mendalam. Akibatnya, ketika pasar mengalami koreksi, kerugian besar pun tidak dapat dihindari.
Nama Penulis:
- Alifa Nawa Subhan
- Cantika Marsya
- Eka Julia Veronica
- Ira Elfariani
- Meva Dwi Yanti
- Riesma Putri Melantie
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang
Dosen Pengampu : Kartika Sari Dewi S.E.,M.M