Jakarta — Pembina dan Pengawas IKAMuratara, H. Edi Sjafuan, menyampaikan sejumlah poin penting mengenai sejarah perjuangan masyarakat Muratara sekaligus arah penguatan organisasi IKAMuratara dalam kegiatan konsolidasi organisasi DPW IKAMuratara.
Penyampaian tersebut tidak hanya menjadi pengingat atas akar sejarah perjuangan masyarakat Rawas dan Muratara, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh pengurus dan anggota agar terus menjaga semangat kebersamaan, persatuan, serta kontribusi nyata bagi organisasi dan masyarakat.
IKAMURA dan Perkembangan Organisasi Masyarakat Muratara
Dalam penjelasannya, H. Edi Sjafuan menyampaikan bahwa IKAMURA merupakan bagian dari perkembangan organisasi masyarakat Muratara yang lahir dari dinamika serta kebutuhan masyarakat di berbagai daerah. Kehadiran organisasi-organisasi tersebut menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap daerah asal terus tumbuh di tengah masyarakat perantauan.
Menurutnya, organisasi harus mampu menjadi wadah pemersatu, sarana silaturahmi, sekaligus ruang untuk membangun kontribusi positif bagi generasi muda maupun masyarakat luas.
Sejarah Panjang Perjuangan Masyarakat Rawas dan Muratara
H. Edi Sjafuan juga mengulas sejumlah catatan sejarah penting yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Muratara dan Rawas.
Ia menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II, wilayah Angaro Muara Kelingi dan Muara Rawas telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Selain itu, sejarah perjuangan rakyat juga tercatat melalui Perang Ngalambe pada abad ke-19 yang bermula dari kawasan Toko Bengen Teluk sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap penjajahan.
Dalam penuturannya, ia turut menyinggung tentang Glamed yang dikenal sebagai simbol pendidikan dan pergerakan masyarakat pada malam hari. Aktivitas tersebut berpusat di wilayah Sorolangon yang pada masa itu berada dalam pengaruh Belanda.
Sementara pada masa Revolusi Fisik 1945–1949, masyarakat Muratara dan sekitarnya juga terlibat dalam perjuangan besar yang dikenal melalui peristiwa “Lima Hari Lima Malam”.
Perjuangan Berlanjut hingga Lubuklinggau dan Rejang Lebong
Dalam perjalanan sejarah tersebut, pasukan pejuang rakyat mengalami tekanan besar dari pihak Belanda sehingga harus melakukan pergeseran perjuangan menuju Lubuklinggau.
Saat itu, Taman Merdeka dijadikan markas perjuangan yang dikenal dengan nama “Supkos” atau Sup Komando Sumatera Selatan. Perjuangan kemudian berlanjut hingga ke wilayah Rejang Lebong dan bertemu kembali di kawasan Muara Rupit.
Menurut H. Edi Sjafuan, sejarah tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Muratara merupakan masyarakat pejuang yang memiliki semangat juang tinggi dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.
Pesan untuk Pengurus DPW IKAMuratara
Dalam kesempatan tersebut, H. Edi Sjafuan juga menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus DPW IKAMuratara yang baru, khususnya wilayah DKI Jakarta dan Jabodetabek.
Ia berharap seluruh pengurus dapat menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab, menjaga kekompakan, serta terus menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi anggota dan masyarakat.
Menurutnya, organisasi tidak boleh hanya bergantung pada Ketua Umum semata. Seluruh jajaran DPP maupun DPW harus aktif bergerak, membangun komunikasi, dan menjalankan roda organisasi secara bersama-sama.
Pentingnya Evaluasi yang Bijak dan Pendanaan Organisasi
H. Edi Sjafuan menegaskan bahwa evaluasi terhadap pemerintah maupun berbagai kebijakan harus dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan. Organisasi diharapkan tetap menjaga suasana kondusif serta menghindari sikap saling menjatuhkan yang dapat menimbulkan kegaduhan tanpa manfaat.
Selain itu, ia juga mendorong DPW IKAMuratara untuk lebih aktif mencari peluang pendanaan dan dukungan operasional guna mendukung keberlangsungan program kerja organisasi.
Menjaga Warisan Budaya dan Referensi Sejarah
Dalam pembahasannya, H. Edi Sjafuan turut mengingatkan bahwa wilayah Musi Rawas dahulu memiliki komunitas Suku Anak Dalam yang dikenal melalui tradisi Tari Kubu sebagai bagian dari warisan budaya daerah.
Untuk memperkuat pemahaman sejarah, ia menyarankan agar anggota organisasi mempelajari berbagai referensi, salah satunya buku Perjuangan Rakyat Sumatera Selatan. Nama-nama seperti Asnawi Mangku Alam dan Adi Hasa Said juga disebut sebagai referensi tambahan dalam penelusuran sejarah Muratara dan Rawas.
Ia turut menyinggung dinamika sosial yang pernah terjadi di beberapa dusun, termasuk adanya perbedaan sikap maupun kepentingan dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat.
Organisasi Sebagai Jalan Kebaikan
Di akhir penyampaiannya, H. Edi Sjafuan memberikan motivasi kepada seluruh anggota bahwa organisasi memiliki peran penting selama dijalankan di jalan yang benar.
Menurutnya, organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga sarana belajar, membangun karakter, memperluas jaringan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat secara bersama-sama.
Dengan semangat sejarah perjuangan yang panjang, IKAMuratara diharapkan mampu menjadi organisasi yang solid, berintegritas, dan terus menjaga nilai persatuan serta budaya masyarakat Muratara di mana pun berada.