Indonesiasentris.com | Rencana penataan kawasan Nagoya–Jodoh sebagai koridor pedestrian bernuansa heritage terus dimatangkan oleh Pemerintah Kota Batam dan BP Batam. Proyek yang direncanakan membentang sepanjang 4,7 kilometer dari Harbour Bay hingga Pakuwon ini dinilai membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mengatakan penataan kawasan Nagoya Heritage masih berada pada tahap inisiasi. Pendataan jumlah pedagang yang beraktivitas di kawasan tersebut juga belum final.
“Kami belum memiliki data pasti jumlah pedagang karena ini masih tahap awal. Namun dukungan sudah mulai terlihat. Tantangannya sekarang bagaimana program ini benar-benar bisa terwujud,” ujar Mouris.
Ia menilai kehadiran Wakil Menteri UMKM RI dalam peninjauan kawasan menjadi suntikan semangat baru bagi seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, proyek penataan kawasan tidak mungkin berjalan sendiri tanpa kerja sama lintas sektor.
“Dengan kedatangan Wamen UMKM, optimisme itu muncul. Ini bukti kita serius. Superhero tidak bisa bekerja sendiri, harus kolaborasi dengan semua stakeholder,” kata Mouris.
Sementara itu, Wamen UMKM Helvi Yuni Moraza mendorong adanya pertemuan khusus antara pemerintah, pelaku UMKM, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), perbankan Himbara, serta masyarakat sekitar. Pertemuan tersebut dinilai penting untuk menyepakati konsep penataan, skema pembinaan, hingga pembiayaan.
“Spot Jodoh ini masuk perencanaan daerah. Kami berharap pelestarian budaya dan tata hubungan masyarakat tetap terjaga, sehingga Jodoh bisa menjadi ikon wisata Kota Batam,” ujar Helvi.
Pemerintah pusat, lanjut Helvi, juga siap mendukung pembiayaan bagi pelaku UMKM, mulai dari skema ultra mikro hingga mikro, agar para pedagang tetap bisa bertahan dan berkembang selama proses revitalisasi berlangsung.[]