Logo Indosia sentris Logo Indosia sentris
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Reading: Ketika Ibu Kota Nusantara Berubah Jadi Ibu Kota Politik
Share
Search
Font ResizerAa
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Heritage
  • Saintek
Search
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Follow US
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme. Powered by WordPress
Home » Blog » Ketika Ibu Kota Nusantara Berubah Jadi Ibu Kota Politik
Dialektika

Ketika Ibu Kota Nusantara Berubah Jadi Ibu Kota Politik

Catatan Cak AT - Ahmadie Thaha

By admin
Last updated: 21/09/2025
5 Min Read
Share
ikn

Indonesiasentris.com | Pelan-pelan tapi halus, begitulah cara Presiden Prabowo Subianto memainkan piano peninggalan Jokowi. Tidak dengan gebrakan keras, tidak pula dengan bantingan meja, melainkan dengan satu gesekan lembut: mengganti singkatan.

Ibu Kota Nusantara (IKN), yang semula digadang-gadang sebagai ibu kota negara, kini bermetamorfosis menjadi “Ibu Kota Politik” (IKP), diresmikan dalam sebuah SK Presiden. Persis seperti mengubah resep rendang jadi semur hanya dengan menukar santan dengan kecap.

Saya membayangkan para birokrat tersenyum sambil mengangguk-angguk penuh kepura-puraan: “Wah, cerdas sekali, Pak Presiden. Tidak frontal, tapi mak jleb.” Padahal di hati kecil mereka mungkin bertanya: “Ibu kota politik itu apa, ya?”

Kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris, barangkali Political Capital. Masalahnya, political capital dalam literatur ilmu politik itu artinya “modal politik”, bukan kota. Lah, jadi kita sedang membangun modal atau membangun kota?

Dalam teori Pierre Bourdieu, political capital dipahami sebagai salah satu bentuk capital selain ekonomi, sosial, dan kultural: sebuah akumulasi legitimasi, reputasi, serta posisi simbolik yang memungkinkan aktor politik memengaruhi struktur kekuasaan.

James Coleman menekankan bahwa modal politik adalah sumber daya relasional, diperoleh melalui jaringan sosial dan kepercayaan, yang bisa ditukar dengan kekuasaan atau kebijakan.

Jadi jelas: dalam ilmu politik, political capital adalah abstraksi, bukan topografi. Ia tak pernah dimaknai sebagai wilayah geografis dengan lahan 800 hektare dan jaringan jalan 0,74 indeks aksesibilitas.

Tapi sudahlah. Mari kita coba bayangkan skenario absurd ini. Jika IKN betul-betul jadi “ibu kota politik”, apakah semua kantor partai politik akan pindah ke sana?

Apakah gedung DPR/MPR juga bakal hijrah, sehingga mahasiswa Jakarta nanti hanya bisa demo lewat Zoom dengan background virtual “Gedung DPR Nusantara”? Atau barangkali akan ada “koridor demonstrasi digital” berlisensi, lengkap dengan aplikasi DemoGo yang bisa diunduh di PlayStore.

Di sisi lain, kita tahu istilah “ibu kota politik” ini terdengar asing. Di dunia, yang dikenal itu political center, seat of government, atau capital city.

Tak pernah ada yang secara resmi menyebut “political capital city.” Kalau pun ada, mungkin hanya di buku fiksi distopia, di mana para politisi membangun Disneyland khusus untuk persekongkolan politik, lengkap dengan wahana Roller Coaster of Democracy.

Namun, mari kita jangan buru-buru menertawakan. Mungkin ada logika halus yang hendak dibangun Prabowo: Jakarta biarlah jadi pusat ekonomi, pusat dagang, pusat mall, pusat gosip selebriti.

Sementara Penajam Paser Utara dijadikan pusat politik —tempat para politisi, pejabat ASN, sekitar 1.700 sampai 4.100 jiwa, bermigrasi dengan rapi.

Itulah politik kita: jumlah manusia yang dipindahkan bisa dihitung dengan kalkulator, sementara jumlah drama politik yang ikut pindah tak bisa diukur bahkan dengan algoritma ChatGPT sekalipun.

Kita patut mengapresiasi Prabowo. Ia tidak merusak bangunan Jokowi, hanya mengganti nama pintu gerbangnya. Dari luar tampak sama, di dalamnya berubah fungsi.

IKN versi Jokowi adalah rumah megah untuk seluruh republik, IKN versi Prabowo adalah rumah kontrakan untuk para politisi. Tidak frontal, tapi halus. Seperti orang Jawa yang menolak lamaran jodoh dengan kalimat: “Wah, cocok sih, tapi mungkin rezekinya beda jalur.”

Meski demikian, akal sehat kita masih sempat nyengir. Apa jadinya kalau generasi mendatang membaca buku sejarah dan menemukan kalimat: “Pada 2028, Indonesia memindahkan ibu kotanya, bukan sebagai national capital, melainkan sebagai political capital.”

Mereka pasti mengira kita sedang bercanda. Mirip ketika membaca sejarah Majapahit yang runtuh gara-gara perebutan peti emas, tapi ternyata yang diperebutkan hanya kursi parlemen.

Akhirnya, kita belajar satu hal: politik Indonesia memang piawai mengubah tragedi menjadi komedi, dan sebaliknya. Yang seharusnya jadi agenda besar pembangunan negara, berubah jadi permainan semantik yang bikin rakyat tersenyum pahit.

Tapi jangan salah, dalam humor itu tersimpan pelajaran. Bahwa pembangunan bukan hanya soal beton dan gedung, melainkan juga soal kata-kata.

Sebab, di republik ini, satu kata bisa mengubah nasib sejarah: dari “negara” menjadi “politik.” Dan itulah tragedi yang, untungnya, selalu bisa kita tertawakan.

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 22/9/2025

TAGGED:ibu kota nusantaraikn

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Email Copy Link Print

SUBSCRIBE NOW

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]

HOT NEWS

phri dki jakarta

Rakerda PHRI, Ini Imbauan Menteri Lingkungan Hidup untuk Usaha Hotel dan Restoran

LifestylePariwisata
14/06/2025
hukum

Implikasi Asas Odiosa dan Favorabilia dalam Penafsiran Pasal 27A Undang-Undang ITE

Mohamad Sinal ( Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan…

20/02/2026
tower ASN

Update IKN, Sebanyak 27 Tower untuk ASN sudah Kelar

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan 27 tower untuk ASN di Ibu…

21/01/2025
rusun ikn

Update IKN, Ketua MPR akan Tinjau Pembangunan IKN

Pemerintah terus melakukan pembangunan di IKN. Dalam waktu dekat Ketua MPR RI Ahmad Muzani akan…

21/01/2025

YOU MAY ALSO LIKE

Ribuan Ton Antiobiotik Mengancam Kehidupan Sungai

INDONESIASENTRIS.COM | Bayangkan Anda sedang batuk-pilek, lalu sang dokter dengan penuh kasih sayang menuliskan resep antibiotik. Anda pun menenggaknya, berharap si…

Dialektika
20/05/2025

Mindset dan Teori Gunung Es: Menyelam Lebih Dalam ke Akar Pola Pikir

Noto Susanto, SE, MM (Dosen Universitas Pamulang)

Dialektika
28/10/2025

Pengambilan Keputusan di Bawah Ketidakpastian

Inka Intana (Mahasiswi Institut Agama Islam SEBI)

Dialektika
21/07/2025

Pengelolaan Sumber Daya Manusia di Perguruan Tinggi

Melfiana (Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam Sahid, Bogor)

Dialektika
09/02/2026

Logo Ikon Indonesia Sentris

Web Syndication:

  • Info Keamanan
  • Destinasi Indonesia
  • Warta Regional
  • Info UMKM
  • Info Halal
  • Inilah Kita
  • Info Pesantren
  • Info Beasiswa
  • Suara Muslim
  • Info Masjid
  • Info Kuliner
  • Info Sehat
  • Info Tekno
  • Seputar Rumah
  • Kota Surabaya
  • Info Bekasi
  • Jasa Publikasi
  • Info Santai
  • About Us
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Seedbacklink
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
Follow US
@2025 | IndonesiaSentris
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?