Logo Indosia sentris Logo Indosia sentris
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Reading: Indonesia Darurat Bencana: Antara Takdir dan Kelalaian
Share
Search
Font ResizerAa
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Heritage
  • Saintek
Search
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Follow US
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme. Powered by WordPress
Home » Blog » Indonesia Darurat Bencana: Antara Takdir dan Kelalaian
Dialektika

Indonesia Darurat Bencana: Antara Takdir dan Kelalaian

Muhamad Ardiansyah (Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Insitut Umul Quro Al Islami Bogor)

By admin
Last updated: 24/12/2025
5 Min Read
Share
Muhamad Ardiansyah Insitut Umul Quro Al Islami Bogor

Indonesiasentris.com | Bencana alam seolah sudah menjadi bagian dari laporan berita rutin di Indonesia. Hampir tidak ada minggu yang berlalu tanpa kabar banjir bandang melanda suatu daerah, tanah longsor menghancurkan pemukiman, gempa bumi mengguncang wilayah, atau aktivitas gunung berapi yang meningkat. Dalam setiap pemberitaan, sering kali terdengar narasi yang menyebutnya sebagai “musibah” atau “takdir” yang tak terhindarkan. Namun, jika kita mencermati lebih dalam, bencana di Indonesia telah lama berubah dari sekadar fenomena alam murni menjadi bencana antropogenik bencana yang dipicu dan diperburuk oleh ulah manusia. Di balik setiap banjir yang menerjang, tersimpan cerita panjang tentang penggundulan hutan, alih fungsi lahan yang serampangan, dan tata ruang yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi jangka pendek daripada keberlanjutan lingkungan.

Paradigma yang melihat bencana semata sebagai takdir bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Sikap ini menumbuhkan fatalisme dan mengurangi urgensi untuk melakukan evaluasi kritis serta perbaikan sistemik. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa lebih dari 90% bencana di Indonesia pada tahun 2023 merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Angka ini menjadi indikator nyata bahwa kerusakan lingkungan merupakan faktor utama yang mempercepat dan memperparah bencana. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air banyak yang telah berubah menjadi perkebunan monokultur atau kawasan perumahan. Daerah aliran sungai (DAS) kritis terus meluas, sementara daya dukung lingkungan semakin menurun.

Akar permasalahan bencana di Indonesia bersifat kompleks dan multidimensi. Pertama, lemahnya penegakan hukum terhadap perusak lingkungan. Izin-izin yang seharusnya menjadi alat pengendalian justru sering diterbitkan secara longgar, dengan mengabaikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang komprehensif. Kedua, tata ruang wilayah yang tidak konsisten dan mudah direvisi untuk kepentingan investasi. Kawasan lindung sering kali berubah status menjadi kawasan budidaya dengan dalih pembangunan ekonomi. Ketiga, budaya penanganan bencana yang masih bersifat reaktif, bukan preventif. Alokasi anggaran dan perhatian lebih banyak tersedot untuk kegiatan tanggap darurat dan rehabilitasi, bukan pada pengurangan risiko bencana yang sistematis dan berkelanjutan. Akibatnya, masyarakat yang tinggal di zona rawan tetap dibiarkan hidup dengan infrastruktur mitigasi yang minim.

Indonesia sering disebut sebagai “laboratorium bencana” dunia. Gelar ini seharusnya menjadi cambuk untuk menjadikan Indonesia sebagai pelopor dalam pengelolaan risiko bencana. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Pembelajaran dari satu bencana jarang menjadi dasar kebijakan yang efektif di wilayah lain. Contoh nyata dapat dilihat dari banjir Jakarta yang berulang atau luapan Sungai Bengawan Solo yang terus terjadi. Solusi yang ditawarkan sering kali bersifat teknis dan parsial, seperti normalisasi sungai atau pembangunan tanggul, tanpa menyentuh akar masalah di hulu: restorasi ekosistem dan pengendalian eksploitasi lahan.

Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma secara radikal. Pertama, bencana harus dilihat sebagai hasil dari kerentanan yang dibangun (constructed vulnerability). Kerentanan ini lahir dari kebijakan yang keliru, kemiskinan, dan ketimpangan akses terhadap sumber daya. Kedua, pendekatan pengurangan risiko bencana harus diintegrasikan ke dalam setiap sektor pembangunan, mulai dari perencanaan tata ruang, pertanian, kehutanan, hingga infrastruktur. Ketiga, partisipasi masyarakat lokal sebagai aktor utama harus diperkuat. Mereka yang hidup berdampingan dengan risiko bencana paling memahami tanda-tanda alam dan kebutuhan di tingkat lapangan. Kolaborasi antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern perlu ditingkatkan.

Pada akhirnya, menyebut bencana sebagai “takdir” adalah bentuk pengabaian tanggung jawab kolektif. Bencana alam merupakan keniscayaan geologis dan meteorologis di Nusantara, tetapi mengubahnya menjadi sebuah katastrofi yang merenggut nyawa dan harta benda adalah pilihan manusia. Pilihan untuk terus mengeksploitasi alam tanpa memedulikan daya dukung lingkungan, pilihan untuk berkompromi dengan perusak lingkungan, dan pilihan untuk mengabaikan peringatan ilmu pengetahuan.

Sudah saatnya kita beralih dari narasi “ditimpa musibah” menjadi “gagal mencegah malapetaka”. Hanya dengan mengakui unsur kelalaian dalam setiap bencana, kita dapat membangun ketangguhan yang sesungguhnya. Jika tidak, kita hanya akan terus menunggu giliran berikutnya dalam siklus darurat yang tak berujung.[]

Sumber Referensi:

  1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2023). Data Kejadian Bencana Tahun 2023.
  2. World Bank. (2021). Indonesia Country Program for Disaster Risk Management.
  3. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2022). Impacts, Adaptation and Vulnerability.
  4. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (2022). Laporan Deforestasi dan Degradasi Hutan.
  5. Djalante, R. (2019). Disaster risk reduction and climate change adaptation in Indonesia: Institutional challenges and opportunities. International Journal of Disaster Resilience in the Built Environment.
  6. (2023). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia.
  7. Laporan Khusus BMKG tentang Perubahan Iklim dan Dampaknya di Indonesia (2023).

 

 

TAGGED:artikel mahasiswabencana alammahasiswa ummul quromalapetakamusibah

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Email Copy Link Print

SUBSCRIBE NOW

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]

HOT NEWS

phri dki jakarta

Rakerda PHRI, Ini Imbauan Menteri Lingkungan Hidup untuk Usaha Hotel dan Restoran

LifestylePariwisata
14/06/2025
Muhamad Ardiansyah Insitut Umul Quro Al Islami Bogor

Indonesia Darurat Bencana: Antara Takdir dan Kelalaian

Muhamad Ardiansyah (Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Insitut Umul Quro Al Islami Bogor)

24/12/2025
tower ASN

Update IKN, Sebanyak 27 Tower untuk ASN sudah Kelar

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan 27 tower untuk ASN di Ibu…

21/01/2025
rusun ikn

Update IKN, Ketua MPR akan Tinjau Pembangunan IKN

Pemerintah terus melakukan pembangunan di IKN. Dalam waktu dekat Ketua MPR RI Ahmad Muzani akan…

21/01/2025

YOU MAY ALSO LIKE

Peran Teknologi dalam Mendorong Inovasi Bisnis di Era Digital

Glady Pambudi & Muhamad Akbar (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Dialektika
29/11/2025

Teleportasi Kuantum Isra Mi’raj

INDONESIASENTRIS.COM | Ada satu pertanyaan besar yang sering muncul ketika membahas Isra' Mi’raj Nabi Muhammad Saw: bagaimana mungkin perjalanan sejauh…

Dialektika
30/01/2025

Mahasiswa FEB Universitas Pamulang Edukasi Literasi Digital Pelajar SMA

Indonesiasentris.com | Pamulang--Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang telah melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMA Muhammadiyah 25…

Dialektika
23/12/2025

The Power of Personality; Bagaimana Sifat Manusia Menentukan Keberhasilan

Alif Kurniawan dan Siti Nur Apriliani (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Dialektika
24/11/2025

Logo Ikon Indonesia Sentris

Web Syndication:

  • Info Keamanan
  • Destinasi Indonesia
  • Warta Regional
  • Info UMKM
  • Info Halal
  • Inilah Kita
  • Info Pesantren
  • Info Beasiswa
  • Suara Muslim
  • Info Masjid
  • Info Kuliner
  • Info Sehat
  • Info Tekno
  • Seputar Rumah
  • Kota Surabaya
  • Info Bekasi
  • Jasa Publikasi
  • Info Santai
  • About Us
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Seedbacklink
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
Follow US
@2025 | IndonesiaSentris
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?