Indonesiasentris.com | Kehidupan manusia bergerak dalam dinamika pencarian makna dan kebenaran. Dalam filsafat pemikiran ilmiah, kebenaran tidak dipahami sebagai sesuatu yang hadir sekali lalu selesai, melainkan sebagai proses siklik dan berkelanjutan. Ilmu berkembang melalui pengamatan, pengujian, koreksi, dan penyempurnaan. Namun, di tengah proses yang terus bergerak itu, manusia tetap membutuhkan pegangan hidup—kebenaran yang telah matang dan terbukti memberi arah, ketertiban, serta kemaslahatan.
Pada tahap awal, manusia mengenal kebenaran melalui pengalaman empiris sederhana: apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami. Kebenaran pada fase ini bersifat sementara dan terbuka untuk diuji. Ilmu kemudian hadir sebagai metode untuk menertibkan pengalaman tersebut melalui rasio, logika, dan pembuktian. Dari sinilah lahir pengetahuan ilmiah yang sistematis.
Seiring waktu, sebagian kebenaran melewati proses panjang pengujian lintas generasi. Ia diuji oleh realitas, dikritik oleh akal sehat, dan dibuktikan manfaatnya dalam kehidupan sosial. Pada titik inilah kebenaran tersebut mencapai apa yang dapat disebut sebagai kesempurnaan fungsional dan etis—bukan sempurna secara mutlak, tetapi cukup matang untuk dijadikan pedoman hidup.
Penting dipahami, menjadikan kebenaran sebagai pegangan hidup tidak berarti mematikan ilmu. Justru sebaliknya. Ilmu empiris tetap bekerja, terus meneliti, dan memperdalam pemahaman terhadap realitas. Bedanya, proses ilmiah ini tidak lagi menggoyahkan nilai dasar, melainkan menyempurnakan cara penerapan nilai tersebut dalam konteks yang terus berubah.
Di sinilah letak keseimbangan akal sehat. Ilmu berperan menjawab pertanyaan bagaimana kehidupan dijalani secara efektif dan efisien. Sementara kebenaran yang telah matang menjawab pertanyaan untuk apa kehidupan diarahkan. Tanpa pegangan nilai, ilmu kehilangan arah dan bisa disalahgunakan. Sebaliknya, tanpa ilmu yang terus berjalan, nilai hidup bisa membeku dan kehilangan relevansi.
Kebenaran yang benar dan sempurna secara nilai berfungsi sebagai kompas moral dan eksistensial. Ia menuntun sikap, keputusan, dan tanggung jawab manusia dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Kebenaran semacam ini tidak mudah goyah oleh perubahan data sesaat, karena telah teruji oleh waktu, pengalaman, dan dampak nyata bagi kemanusiaan.
Dengan demikian, peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang meragukan segalanya tanpa pegangan, dan bukan pula peradaban yang membekukan kebenaran hingga menolak pembelajaran. Peradaban yang matang adalah peradaban yang berpegang teguh pada kebenaran yang telah disempurnakan, sambil tetap membuka ruang bagi ilmu untuk belajar, mengkaji, dan memperhalus pemahaman empiris.
Inilah hakikat kemajuan: kebenaran menjadi pegangan hidup, sementara ilmu terus berjalan tanpa henti—saling menguatkan, bukan saling meniadakan.[]