Logo Indosia sentris Logo Indosia sentris
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Reading: Menjerit Dalam Diam
Share
Search
Font ResizerAa
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Heritage
  • Saintek
Search
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Follow US
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme. Powered by WordPress
Home » Blog » Menjerit Dalam Diam
Dialektika

Menjerit Dalam Diam

By admin
Last updated: 19/05/2025
4 Min Read
Share
Catatan Yusuf Blegur

INDONESIASENTRIS.COM | Negara terus memproduksi manusia-manusia yang sejatinya telah menjadi ‘binatang’ yang paling buas. Berkumpul dan bermufakat, segelintir orang berhasil mengadakan eksploitasi manusia atas manusia, merusak alam dan menghancurkan aqidah umat.

Rasa sakit itu ada, darah yang tertumpah itu nyata, dan kehilangan nyawa itu fakta. Mirisnya, semua itu dianggap lumrah, alami dan didaulat sebagai sunatullah, meminjam istilah yang sering disebut para Kyai dan santri. Ada keyakinan kuat bahwasanya kebahagiaan dan penderitaan itu takdir yang harus diterima, bukan yang harus diperjuangkan atau ikhtiar yang harus ditempuh apapun hasil dan resikonya. Premis ortodoks itu terlalu mengakar kuat dalam sanubari dan menuntun pandangan hidup banyak orang di republik ini.

Teraniaya lahir batin itu tak terhindarkan. Diperkosa haknya kerap terjadi dan bertubi-tubi.
Menangis meraung-raung, sesak dalam dada, menjadi simbol perlawanan yang lemah dan terbata-bata. Pergumulan dan konflik batin itu menyeruak menyebar ke seluruh tubuh, menjadi penyesalan dan mewujud penyakit mental dan fisik. Si papa dan terisolir dari kelayakan hidup terus berada dalam ketertindasan, hanya bisa menjemput atau dijemput kematian.

Ikatan sosial begitu rapuh, persaudaraan kian terkikis, dan kemanusiaan semakin langka. Tak ada lagi keyakinan aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Perasaan senasib dan sependeritaan itu tak lagi memiliki ruang di hati sesama. Semua jelata terseok-terseok sekedar mencari makan untuk bertahan hidup, di tengah pesta-pora sekelompok kecil orang.

Keadilan terus menjauh, menghilang ditelan bumi. Kesetaraan terpuruk tak sanggup melawan tembok kokoh feodalisme. Kekayaan yang mengangkangi jabatan dan otoritas terus menyuburkan keangkuhan, kesewenang-wenangan dan mewujud rezim atau golongan tiran.

Terjebak oleh kapitalisme yang memiskinkan dan menjadikan manusia hanya sebagai budak nafsu. Harga sebuah jiwa dan kesadaran begitu teramat murah bahkan acapkali tak ada nilainya.
Kepemilikan modal tak terbatas itu menjadi mesin penghancur keberadaban atas nama modernitas.

Pikiran pembebasan sering kalah dan menyerah pada kemapanan stasus sosial dan materi. Individualitas dan golongan pemilik kuasa besar bergentayangan dalam ranah publik, mencaplok yang kecil, bodoh dan tak berdaya. Para pemimpin dan penguasa yang ada, kebanyakan tak ubahnya menjadi ‘iblis’ dalam wujud manusia atau setidaknya menjadi manusia berwatak iblis.

Kini, teramat banyak yang menjerit dalam diam. Kesakitan yang terangat sangat begitu menyayat, hadir dalam suasana penderitaan lahir dan batin yang marak dan beragam. Kehilangan tanah dan tempat tinggal karena terusir dan tergusur. Luka, penjara dan kematian menjadi konsekuensi logis ketika memperjuangkan harta benda yang dimiliki. Terlebih saat menginginkan kebenaran, ia sungguh pahit dan getir. Penghidupan yang layak hanya sebatas mimpi, apalagi kesejahteraan.

Kepada siapa lagi sang jelata dan orang-orang marjinal itu mengadu?. Kepada pemimpin sebenarnya, kemana menemukannya?. Masihkah ada tempat berlindung, masihkan ada jalan untuk keselamatan?. Putus asa dan frustasi semakin dalam merasuk. Tubuh lunglai dan hati yang remuk-redam, hanya bisa menatap masa depan yang suram dan gelap. Seraya menanti kehadiran Tuhan di sisinya, atau kehadirannya di sisi Tuhan.

Kini, orang kecil tak tahu lagi arti hidup merdeka atau dijajah, keduanya terasa sama saja. Hamba saya pemilik negara itu hanya bisa merasakan menjadi manusia yang tak manusiawi. Seraya merasakan mati dalam hidup, mereka juga hanya bisa menjerit dalam diam.[]

 

Catatan Yusuf Blegur

Bekasi Kota Patriot.
21 Dzulqa’dah 1446 H/19 Mei 2025

  • Disclaimer: isi konten artikel adalah tanggung jawab penulis
TAGGED:menjerit dalam diamyusuf blegur

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Email Copy Link Print

SUBSCRIBE NOW

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]

HOT NEWS

phri dki jakarta

Rakerda PHRI, Ini Imbauan Menteri Lingkungan Hidup untuk Usaha Hotel dan Restoran

LifestylePariwisata
14/06/2025
hukum

Implikasi Asas Odiosa dan Favorabilia dalam Penafsiran Pasal 27A Undang-Undang ITE

Mohamad Sinal ( Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan…

20/02/2026
tower ASN

Update IKN, Sebanyak 27 Tower untuk ASN sudah Kelar

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan 27 tower untuk ASN di Ibu…

21/01/2025
rusun ikn

Update IKN, Ketua MPR akan Tinjau Pembangunan IKN

Pemerintah terus melakukan pembangunan di IKN. Dalam waktu dekat Ketua MPR RI Ahmad Muzani akan…

21/01/2025

YOU MAY ALSO LIKE

Larang Sana, Larang Sini

Amerika Serikat (AS), sang penjaga gerbang inovasi, berusaha mengunci pintu rapat-rapat, sementara China, dengan senyum dermawan, justru membuka gerbangnya selebar-lebarnya.

Dialektika
05/02/2025

Tambang Emas Tembakau Madura Minus Keadilan Sosial

Madura, pulau tanpa gunung emas, tembaga, atau nikel seperti Papua. Tapi jangan salah, pulau ini punya tambang emas yang lebih…

Dialektika
15/05/2025

Etika Komunikasi sebagai Dasar Pembentukan Karakter Profesional Mahasiswa

Aulia Fauzia Rahman & Kho'irun Nisa Naz'wa (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Dialektika
28/11/2025

Peran Komunikasi dalam Meningkatkan Kepercayaan Konsumen di Indonesia

Iskandar Nasution (Mahasiswa Manajemen Keuangan Universitas Pamulang)

Dialektika
19/11/2025

Logo Ikon Indonesia Sentris

Web Syndication:

  • Info Keamanan
  • Destinasi Indonesia
  • Warta Regional
  • Info UMKM
  • Info Halal
  • Inilah Kita
  • Info Pesantren
  • Info Beasiswa
  • Suara Muslim
  • Info Masjid
  • Info Kuliner
  • Info Sehat
  • Info Tekno
  • Seputar Rumah
  • Kota Surabaya
  • Info Bekasi
  • Jasa Publikasi
  • Info Santai
  • About Us
  • Tim Redaksi
  • Disclaimer
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Heritage
  • Lifestyle
    • Pariwisata
  • Saintek
  • Ekonomi
Seedbacklink
Indonesia SentrisIndonesia Sentris
Follow US
@2025 | IndonesiaSentris
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?